Supported by Blogaul

Kamis, 14 Februari 2013

Daun-daun Kilayu Bertahmid




Daun-daun Kilayu Bertahmid
Suyono S. Adiraharja


Allahuma inni a’udzubika min adzabi jahannama
wa min ‘adzbil qobri wa min syarri fitnati mahya
Ooo, belum usai kubaca doa tahiyat akhir,
senja tergerus malam.

Berjalanlah ke perbatasan, duhai hati yang terjaga.
Duduklah di sisi Auliya’. Maka aku kumpulkan
hikmah dari tujuh laut kalam-Nya.
Aku sematkan di kedalaman telaga hati.

Di Masjid Agung Tanara ini, daun-daun kilayu bertahmid.
Selamat datang duhai jiwa-jiwa yang tenang.
Bermilyar Anbiya’ menyinari bait-bait puisi.
Aku menunduk di pintu cahayamu.

Tanara, Maret 2009

Nasihat Imam Al-Ghazali




Soalan dan Nasihat Imam Al-Ghazali






Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya :
Soalan pertama Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran:185) .
Soalan kedua
Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Soalan ketiga Iman Ghazali : Apa yang paling besar di dunia ini ?
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka .
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai. ”
(Surah Al-A’raaf, Ayat 179)
Soalan keempat Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ?
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di duni! a ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.’
Soalan kelima Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. Na’uzubillahiminzaa lik.
Soalan keenam Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?
Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Kita Masih Bisa Diam



Kita Masih Bisa Diam
Suyono S. Adiraharja


Kita masih bisa diam, ketika ikan-ikan
di celah timor kehilangan keramba. Nelayan pun
menebar jaring di bawah sorot mata beringas.

Masihkah kita  bisa diam, saksikan luka Timika.
Kakinya terjerat pusaran waktu tak berujung.
Lihatlah lelaki berkoteka itu! Mereka hanya bisa
mengais pelepah kering di tengah pesta panen sagu.

Kita masih bisa diam, demi ksatria pilihan ditarik
ke barak. Senayan lantang berorasi tentang supremasi.
Sayang, ia gagap membaca teks proklamasi.

Masihkan kita bisa diam, saksikan berjuta mutiara
hanyut terbawa ombak negeri jiran.
Dari demarkasi Entikong hingga pulau Sebatik,
aku menanti serdadu berwajah coreng-moreng..

FILSAFAT



Asta Brata

Laku hambeging candra
Meniru perilaku rembulan

Seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan seperti bulan
bersinar terang benderang namun tidak panas. Bulan menyinari bumi
dikala malam yang gelap, maknanya, pemimpin harus tahu
saat yang tepat untuk bertindak.

Laku hambeging dahana
Meniru perilaku api

Seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun
pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan
sehingga tidak membawa kerusakan.

Laku hambeging kartika
Meniru perilaku bintang

Seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dalam dirinya ada kekurangan.
Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia sangat kecil tapi dengan optimis
memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan
bintang-bintang tidak malu dianggap kunang-kunang.


Laku hambeging kisma
Meniru perilaku tanah

Seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih denga siapa saja. Tanah
tidak mempedulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani.

Laku hambeging samirana
Meniru perilaku angin

Seorang pemimpin harus waspada dan teliti dimana saja berada. Baik buruk rakyat
harus diteliti benar, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja.

Laku hambeging samodra
Meniru perilaku samudra

Seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap
menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Pemimpin harus siap menjadi muara
dan memberikan penyelesaian yang tepat dari setiap problematika sebagaimana
samudra adalah muara dari sekian juta sungai di dunia.

Laku hambeging surya
Meniru perilaku matahari

Seorang pemimpin harus memberi inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu
menyinari bumi dan memberi energi pada setiap mahluk. Matahari datang selalu tepat
waktu di pagi hari dan kembali di sore hari. artinya seorang pemimpin membutuhkan
kedisiplinan tinggi dalam bekerja. Matahari menyinari lorong-lorong gelap
di permukaan bumi tanpa pilih kasih, sehingga karenanya dedaunan
dapat bersemi, dan manusia dapat melakukan aktivitasnya.
Artinya pemimpin harus bisa menjadi motivator
dan pemberi ruh bagi rakyat.

Laku hambeging tirta
Meniru perilaku air

Seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan
yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran.
Harapan rakyat terhadap pimpinan  yang paling utama adalah rasa keadilan.
Oleh karena itulah muncul harapan mesianistik berupa Ratu Adil,
bukan Ratu Makmur atau Ratu Kuasa. Air bersifat luwes,
tidak pernah berusaha mengalahkan, juga
tidak kalah, tetapi sampai tujuan.